GOTO77 News – Kebiasaan orang tua merusak EQ anak sering kali muncul tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari meremehkan perasaan, sering membentak, hingga terlalu mengontrol, pola respons tertentu dapat menghambat perkembangan kecerdasan emosional anak jika terus dilakukan berulang kali.
Setiap orang tua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu mengendalikan emosi, berempati, dan mempunyai hubungan sosial yang sehat. Karena itu, memahami kebiasaan orang tua merusak EQ anak menjadi langkah penting agar pola komunikasi dan pengasuhan dapat diperbaiki sejak dini.
EQ atau emotional intelligence berkaitan dengan kemampuan anak mengenali emosi, memahami perasaan, mengelola respons, serta berinteraksi secara sehat dengan orang lain. Cara orang tua merespons tangisan, kemarahan, ketakutan, kesalahan, dan konflik menjadi salah satu lingkungan utama tempat anak mempelajari keterampilan tersebut.
American Psychological Association menjelaskan bahwa orang tua dan pengasuh mempunyai peran penting dalam membantu anak belajar mengelola perasaan. Keterampilan regulasi emosi berkembang secara bertahap dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari temperamen, lingkungan, hingga kondisi fisik anak.
Namun, istilah “merusak EQ anak” dalam artikel ini bukan berarti satu kesalahan orang tua akan membuat kecerdasan emosional anak rusak secara permanen. Perkembangan emosional berlangsung dalam jangka panjang dan dipengaruhi banyak faktor.
Berikut 7 kebiasaan orang tua merusak EQ anak yang sebaiknya mulai dihindari.
7 Kebiasaan Orang Tua Merusak EQ Anak yang Perlu Dihindari
Tanpa disadari, beberapa pola komunikasi dan pengasuhan dapat membuat anak kesulitan mengenali, mengekspresikan, atau mengendalikan emosinya. Berikut tujuh kebiasaan yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Selalu Meremehkan atau Menolak Perasaan Anak
Pernah mengatakan:
“Cuma begitu saja kok nangis?”
“Sudah, jangan cengeng.”
“Tidak usah takut, itu bukan apa-apa.”
Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk membuat anak cepat tenang.
Namun, apabila terus dilakukan, anak dapat menangkap pesan bahwa emosi tertentu tidak pantas dirasakan atau dibicarakan.
UNICEF menyarankan orang tua membantu anak mengenali emosi di balik perilakunya, mendengarkan dengan sabar, dan memberi tahu bahwa berbagai perasaan—termasuk sedih, marah, dan frustrasi—boleh dirasakan.
American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan pendekatan emotion coaching: perhatikan perasaan anak, bantu memberinya nama, akui perasaannya, lalu bantu anak menghadapi situasi tersebut.
Daripada mengatakan:
“Jangan menangis!”
Coba:
“Kamu kelihatannya sedih. Mau cerita apa yang terjadi?”
Validasi bukan berarti membenarkan semua perilaku.
Anak boleh marah, tetapi tetap tidak boleh memukul.
Anak boleh kecewa, tetapi orang tua tetap dapat mempertahankan batasan.
Tujuannya adalah mengajarkan:
Semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.
2. Sering Membentak atau Menggunakan Hukuman Keras
Berteriak dapat membuat anak menghentikan perilaku pada saat itu.
Namun, menghentikan perilaku dengan rasa takut berbeda dengan mengajarkan anak memahami emosi dan konsekuensi tindakannya.
UNICEF menyarankan disiplin yang jelas dan tenang tanpa berteriak, menyakiti, atau menakut-nakuti anak. Pendekatan tersebut menekankan aturan, konsekuensi, komunikasi, dan rasa aman dibandingkan ketakutan.
Studi longitudinal yang diterbitkan pada 2026 terhadap data lebih dari 16.000 anak di Inggris juga menemukan hubungan dua arah antara harsh parenting, kesulitan regulasi emosi, dan masalah perilaku pada masa kanak-kanak. Efeknya tidak besar dan hubungan tersebut bersifat timbal balik—perilaku anak juga dapat meningkatkan stres serta respons keras orang tua—sehingga hasilnya tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat sederhana.
Saat anak melakukan kesalahan
Daripada:
“Berapa kali Mama bilang! Kamu memang tidak pernah dengar!”
Coba:
“Yang kamu lakukan tidak boleh. Sekarang kita berhenti dulu, lalu kita cari cara memperbaikinya.”
Nada tegas tetap diperbolehkan.
Yang perlu dihindari adalah membuat rasa takut menjadi alat utama disiplin.
3. Mempermalukan, Membuat Anak Merasa Bersalah, atau Menarik Kasih Sayang
Kalimat seperti:
“Mama malu punya anak seperti kamu.”
“Kalau sayang Papa, kamu pasti nurut.”
atau sengaja mendiamkan anak agar merasa kehilangan kasih sayang dapat masuk dalam bentuk kontrol psikologis.
Penelitian 2024 pada anak sekolah dasar menemukan bahwa kontrol psikologis orang tua—termasuk mempermalukan, menanamkan rasa bersalah, dan menarik kasih sayang—berkaitan dengan peningkatan dysregulation emosi yang dilaporkan anak. Sebaliknya, dukungan orang tua berkaitan dengan regulasi emosi yang lebih baik pada beberapa ukuran penelitian.
Anak perlu mengetahui bahwa:
Perilakunya bisa salah, tetapi dirinya tetap dicintai.
Bedakan dua kalimat berikut:
“Kamu anak nakal.”
dengan:
“Tindakanmu tadi tidak baik karena menyakiti adik.”
Kalimat kedua mengoreksi perilaku, bukan memberi label terhadap identitas anak.
Setelah itu, bantu anak memahami dampak tindakannya dan bagaimana memperbaikinya.
4. Orang Tua Meledak-ledak tetapi Menuntut Anak Selalu Tenang
Anak tidak hanya belajar dari nasihat.
Mereka juga mengamati bagaimana orang dewasa menghadapi stres, konflik, kegagalan, dan rasa marah.
American Academy of Pediatrics menekankan bahwa orang tua merupakan salah satu model perilaku terpenting bagi anak.
Kajian sistematis 2024 juga menemukan bahwa kemampuan regulasi diri orang tua berkaitan positif dengan respons emosional yang lebih suportif kepada anak dan berkaitan negatif dengan respons yang tidak suportif.
Karena itu, sulit mengajarkan anak:
“Kalau marah harus bicara baik-baik.”
apabila anak setiap hari melihat orang dewasa berteriak ketika frustrasi.
Orang tua tentu tetap manusia dan bisa marah.
Yang penting adalah menunjukkan bagaimana emosi dikelola.
Misalnya:
“Mama sedang marah. Mama mau tenang sebentar supaya tidak bicara kasar. Setelah itu kita bahas.”
Ini memberikan contoh nyata bahwa seseorang dapat mengalami emosi kuat tanpa harus menyakiti orang lain.
5. Aturan dan Respons Orang Tua Selalu Berubah-ubah
Hari ini anak dimarahi karena melakukan sesuatu.
Besok tindakan yang sama dibiarkan.
Hari berikutnya hukumannya berbeda lagi.
Ketidakkonsistenan dapat membuat anak kesulitan memahami apa yang sebenarnya diharapkan darinya.
APA menekankan bahwa konsistensi antara orang tua, pengasuh, guru, dan orang dewasa lain penting ketika membantu anak yang sedang belajar mengatur perilaku dan emosi.
Konsisten bukan berarti harus menjadi orang tua yang kaku.
Aturan tetap dapat disesuaikan dengan usia dan situasi.
Namun, prinsip utamanya harus mudah dipahami.
Contohnya:
Aturan: Tidak boleh memukul.
Konsekuensi: Permainan berhenti sementara dan anak dibantu menenangkan diri.
Setelah tenang: Bicarakan alasan ia marah dan cara lain mengungkapkannya.
Dengan pola yang konsisten, anak lebih mudah memahami hubungan antara emosi, pilihan tindakan, dan konsekuensi.
6. Terlalu Mengontrol dan Tidak Pernah Memberi Anak Pilihan
Orang tua memang bertanggung jawab menetapkan batas.
Namun, mengatur semua keputusan kecil anak tanpa memberi ruang untuk memilih juga dapat menghambat kesempatan anak belajar mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensinya.
UNICEF membedakan pola asuh positif dari pendekatan yang sangat kaku. Dalam pendekatan positif, anak dapat dilibatkan dalam aturan dan pilihan yang sesuai usia sehingga tetap mendapatkan struktur sekaligus kesempatan membangun kemandirian.
Tidak berarti anak boleh memutuskan semuanya.
Orang tua tetap menetapkan batas utama.
Namun, berikan pilihan aman.
Misalnya:
“Kamu tetap harus mandi. Mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”
atau:
“PR harus selesai malam ini. Kamu mau mengerjakan matematika atau bahasa dulu?”
Anak tetap mengikuti aturan, tetapi mempunyai kesempatan melatih pengambilan keputusan.
7. Hanya Menyuruh “Tenang” Tanpa Mengajari Caranya
Bayangkan seseorang berkata kepada orang dewasa yang sedang panik:
“Sudah, jangan panik.”
Masalahnya, mengetahui bahwa kita harus tenang tidak otomatis membuat kita tahu bagaimana caranya menjadi tenang.
Hal yang sama terjadi pada anak.
Kemampuan regulasi emosi berkembang secara bertahap dan melibatkan perhatian, bahasa, perencanaan, kontrol impuls, serta kemampuan memecahkan masalah. Perkembangan keterampilan tersebut terus berlangsung hingga masa muda.
Daripada hanya berkata:
“Tenang!”
orang tua dapat membantu anak melakukan langkah sederhana:
- Kenali emosinya.
- Beri nama pada perasaannya.
- Tenangkan tubuh terlebih dahulu.
- Cari tahu penyebabnya.
- Pikirkan beberapa pilihan tindakan.
- Pilih respons yang aman.
- Evaluasi setelah situasi selesai.
Misalnya:
“Kamu marah karena mainannya diambil. Kita tarik napas dulu. Setelah lebih tenang, bagaimana kamu bisa meminta mainannya kembali tanpa memukul?”
Dengan cara tersebut, orang tua tidak hanya menuntut hasil tetapi mengajarkan proses.
Mengapa Respons Orang Tua Sangat Penting?
Perkembangan emosional anak berlangsung di dalam hubungan.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi responsif dan bolak-balik antara anak dan pengasuh—dikenal sebagai serve and return—mendukung perkembangan dasar kemampuan komunikasi dan sosial-emosional.
Sebuah meta-analisis terhadap 72 studi juga menemukan bahwa hubungan keterikatan yang lebih aman antara orang tua dan anak berkaitan dengan regulasi emosi yang lebih baik serta penggunaan strategi coping sosial dan kognitif yang lebih adaptif.
Artinya, EQ tidak hanya diajarkan melalui kalimat:
“Kamu harus punya empati.”
Anak mempelajarinya dari ribuan interaksi kecil:
- bagaimana orang tua mendengarkan;
- bagaimana konflik diselesaikan;
- bagaimana orang tua meminta maaf;
- bagaimana kesalahan ditanggapi;
- dan bagaimana emosi kuat dikelola.
Sudah Terlanjur Melakukan Kebiasaan di Atas? Apa yang Harus Dilakukan?
Tidak ada orang tua yang selalu merespons dengan sempurna.
Yang lebih penting adalah pola keseluruhan dan kemauan memperbaiki hubungan.
1. Akui kesalahan
Orang tua boleh mengatakan:
“Tadi Papa membentak terlalu keras. Papa seharusnya bisa bicara tanpa berteriak.”
Meminta maaf tidak membuat orang tua kehilangan wibawa.
Anda tetap dapat mempertahankan aturan sambil mengakui cara penyampaiannya kurang tepat.
2. Bantu anak memberi nama emosi
Gunakan kata sederhana seperti:
- senang;
- kecewa;
- takut;
- marah;
- malu;
- cemas;
- iri;
- frustrasi;
- bangga.
APA dan American Academy of Pediatrics sama-sama menganjurkan pembicaraan tentang emosi sejak dini karena anak membutuhkan bahasa untuk mengenali dan mengomunikasikan perasaannya.
3. Dengarkan sebelum memberi solusi
Tidak semua cerita anak membutuhkan nasihat langsung.
Kadang-kadang anak hanya perlu merasa didengar.
Coba tanyakan:
“Kamu mau Mama dengarkan saja atau mau kita cari solusi bersama?”
4. Berikan batas yang jelas
Positive parenting bukan berarti membiarkan semua perilaku.
UNICEF tetap menekankan pentingnya aturan dan konsekuensi yang jelas, tetapi disampaikan dengan tenang dan tanpa mempermalukan atau menakut-nakuti anak.
5. Latih keterampilan saat kondisi sedang tenang
Jangan menunggu tantrum besar untuk pertama kali mengajarkan teknik menenangkan diri.
Latih ketika suasana nyaman:
- menarik napas perlahan;
- berhenti sejenak;
- mengungkapkan perasaan dengan kata-kata;
- meminta bantuan;
- mencari solusi;
- atau pergi sementara dari situasi konflik.
EQ Anak Tidak Ditentukan oleh Satu Momen
Satu kali membentak bukan berarti masa depan emosional anak langsung rusak.
Begitu pula satu kali respons sempurna tidak otomatis menjadikan anak mempunyai regulasi emosi yang sangat baik.
Penelitian menunjukkan perkembangan emosional dipengaruhi hubungan orang tua-anak, temperamen, lingkungan, pengalaman, perkembangan kognitif, dan berbagai faktor lainnya.
Bahkan hubungan antara pola asuh keras dan kesulitan anak dapat bersifat dua arah: anak yang sedang mengalami kesulitan regulasi atau perilaku juga dapat meningkatkan tekanan yang dirasakan orang tua. Penelitian longitudinal terbaru karena itu menekankan pendekatan transaksional, bukan sekadar menyalahkan salah satu pihak.
Fokus yang lebih bermanfaat adalah:
“Apa yang bisa kita lakukan berbeda mulai sekarang?”
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Setiap anak mengalami tantrum, marah, sedih, takut, atau frustrasi.
Namun, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak, dokter anak, konselor sekolah, atau profesional kesehatan mental apabila kesulitan mengatur emosi terus-menerus mulai mengganggu sekolah, kesehatan, hubungan keluarga, pertemanan, atau aktivitas sehari-hari.
APA juga merekomendasikan mencari dukungan ketika masalah regulasi emosi mulai mengganggu berbagai area kehidupan anak.
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan alat untuk mendiagnosis kondisi psikologis atau menilai “skor EQ” seorang anak.
Baca Juga di GOTO77
Untuk membangun cluster konten psikologi dan pengembangan diri di GOTO77, gunakan internal link berikut:
10 Cara Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital agar Tetap Produktif dan Bahagia — artikel ini membahas kebiasaan menjaga keseimbangan mental, pengelolaan stres, tidur, aktivitas fisik, dan penggunaan teknologi.
URL internal:https://go-77.id/kesehatan-mental-di-era-digital/
Sering Cemas Berlebihan? Bisa Jadi Faktor Kepribadian — dapat dijadikan internal link pada pembahasan regulasi emosi dan kecemasan.
URL internal:https://go-77.id/sering-cemas-berlebihan/
7 Kebiasaan yang Membuat Orang Tidak Menghormati, Wajib Dihindari — relevan untuk cluster kecerdasan emosional, komunikasi, karakter, dan hubungan sosial.
URL internal:https://go-77.id/kebiasaan-yang-membuat-orang-tidak-menghormati/
Kesimpulan
Kesimpulan
Memahami kebiasaan orang tua merusak EQ anak penting agar orang tua dapat mengevaluasi pola komunikasi dan pengasuhan sehari-hari. Kebiasaan seperti meremehkan emosi, sering membentak, mempermalukan anak, terlalu mengontrol, serta tidak memberi contoh regulasi emosi yang sehat sebaiknya mulai dikurangi.
Tujuh kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah:
- meremehkan atau menolak perasaan anak;
- sering membentak atau menggunakan hukuman keras;
- mempermalukan dan membuat anak merasa bersalah;
- menuntut anak tenang sementara orang tua sendiri mudah meledak;
- menerapkan aturan secara tidak konsisten;
- terlalu mengontrol dan tidak memberi pilihan sesuai usia;
- menyuruh anak tenang tanpa mengajarkan caranya.
Menghindari kebiasaan orang tua merusak EQ anak bukan berarti orang tua harus selalu sempurna. Yang lebih penting adalah membangun pola hubungan yang aman, terbuka, konsisten, dan mau memperbaiki kesalahan. percakapan, contoh, konflik, kesalahan, dan proses memperbaikinya.
Yang dibutuhkan anak adalah orang dewasa yang mau mendengarkan, memberikan batas dengan jelas, mengakui kesalahan, dan terus belajar membangun hubungan yang aman serta responsif. Hubungan responsif merupakan bagian penting dari lingkungan yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.
GOTO77 News menghadirkan informasi seputar gaya hidup, psikologi, kesehatan mental, keluarga, dan pengembangan diri berdasarkan sumber yang dapat diperiksa.
FAQ KECERDASAN EMOSIONAL ANAK
1. Apa yang dimaksud EQ anak?
EQ atau emotional intelligence umumnya digunakan untuk menggambarkan kemampuan mengenali dan memahami emosi, mengelolanya secara adaptif, serta berinteraksi dengan orang lain. Dalam perkembangan anak, kemampuan regulasi emosi berkembang secara bertahap dan melibatkan banyak keterampilan kognitif maupun sosial.
2. Apakah sering membentak bisa memengaruhi emosi anak?
Pola pengasuhan keras telah dikaitkan dengan kesulitan regulasi emosi dan masalah perilaku dalam sejumlah penelitian. Namun, hubungan orang tua-anak bersifat kompleks dan dapat berlangsung dua arah sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa satu kejadian pasti menyebabkan gangguan tertentu.
3. Apakah anak boleh menangis?
Menangis merupakan salah satu cara anak mengekspresikan kebutuhan atau emosi. Orang tua dapat membantu anak mengenali apa yang dirasakannya sambil tetap mengajarkan cara mengekspresikan perasaan dengan aman.
4. Bagaimana meningkatkan EQ anak?
Orang tua dapat membantu dengan mendengarkan perasaan anak, memberi nama pada emosi, menunjukkan cara mengelola stres, memecahkan masalah bersama, memberi batas yang konsisten, dan menjadi contoh regulasi emosi yang sehat.
5. Apakah memvalidasi emosi berarti memanjakan anak?
Tidak. Mengakui bahwa anak sedang marah atau sedih tidak berarti orang tua harus memenuhi semua keinginannya. Batas perilaku tetap dapat dipertahankan sambil mengakui perasaan anak. UNICEF merekomendasikan kombinasi antara mendengarkan emosi anak dan memberikan batas yang jelas serta tenang.
6. Apakah anak meniru emosi orang tuanya?
Anak belajar banyak perilaku melalui pengamatan terhadap orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, cara orang tua menghadapi konflik dan kemarahan dapat menjadi contoh bagaimana emosi diungkapkan dan dikelola.
7. Apakah orang tua harus selalu tenang?
Tidak realistis mengharapkan orang tua tidak pernah marah atau kehilangan kesabaran. Yang penting adalah belajar mengatur respons, memperbaiki hubungan setelah konflik, dan memberi contoh bagaimana seseorang pulih dari emosi kuat.
8. Kapan anak perlu dibawa ke psikolog?
Pertimbangkan bantuan profesional apabila kesulitan emosi atau perilaku mulai mengganggu sekolah, kesehatan, kehidupan keluarga, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari.
SUMBER REFERENSI
1. American Psychological Association (APA)
Panduan mengenai perkembangan regulasi emosi anak dan peran orang tua dalam membantu anak memahami serta mengelola perasaan.
2. UNICEF
Panduan positive parenting, validasi emosi, disiplin tanpa kekerasan, pemberian pilihan, serta pentingnya mendengarkan anak.
3. Harvard Center on the Developing Child
Penjelasan mengenai serve and return dan pentingnya hubungan responsif dalam perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak.
4. American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org
Panduan emotion coaching dan strategi membantu anak menghadapi emosi besar.
5. Psychological Bulletin, 2024
Systematic review mengenai regulasi diri orang tua dan perilaku sosialisasi emosi terhadap anak.
6. Journal of Family Psychology, 2024
Penelitian mengenai parental support, psychological control, dan regulasi emosi anak.
7. Emotion, Meta-analysis
Analisis hubungan keterikatan orang tua-anak dengan pengalaman dan regulasi emosi anak.
8. Research on Child and Adolescent Psychopathology, 2026
Penelitian longitudinal mengenai hubungan dua arah antara harsh parenting, dysregulation emosi, dan masalah perilaku anak.

