Internet Berlebihan Picu Bad Mood dan Stres?

Penggunaan internet berlebihan berkaitan dengan bad mood dan stres Studi menemukan bahwa penggunaan internet berlebihan berkaitan dengan suasana hati buruk, stres, dan terabaikannya aktivitas penting.

GOTO77 News – Penggunaan internet berlebihan ternyata bukan hanya membuat waktu terasa cepat berlalu. Penelitian terbaru menemukan bahwa orang dengan pola penggunaan internet bermasalah cenderung melaporkan tingkat stres lebih tinggi, suasana hati lebih buruk, dan lebih sering mengabaikan aktivitas penting dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian tersebut diterbitkan di jurnal ilmiah PLOS One pada 29 Juli 2026. Para peneliti dari University of Duisburg-Essen dan University Hospital Essen, Jerman, mempelajari kebiasaan digital 900 orang dewasa selama 14 hari.

Namun, hasil penelitian ini tidak berarti setiap orang yang menggunakan internet dalam waktu lama pasti mengalami gangguan kesehatan mental. Penelitian lebih menyoroti pola penggunaan yang mulai sulit dikendalikan dan mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, pendidikan, atau aktivitas penting lainnya.

Apa yang Dimaksud Penggunaan Internet Berlebihan?

Dalam penelitian tersebut, istilah yang digunakan adalah problematic usage of the internet atau penggunaan internet bermasalah.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang menggunakan aplikasi atau layanan online secara berlebihan hingga menimbulkan tekanan atau gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang diteliti mencakup:

  • Bermain game online.
  • Menggunakan media sosial.
  • Berbelanja melalui internet.
  • Mengakses konten pornografi.

Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu penggunaan tidak bermasalah, berisiko, dan patologis. Sebanyak 419 peserta masuk kelompok tidak bermasalah, 242 orang berada dalam kategori berisiko, dan 239 orang tergolong patologis.

Hal yang perlu diperhatikan adalah durasi online bukan satu-satunya ukuran. Seseorang dapat menghabiskan waktu lama menggunakan internet untuk bekerja atau belajar tanpa mengalami gangguan. Sebaliknya, penggunaan yang lebih singkat dapat menjadi masalah apabila sulit dikendalikan dan membuat kewajiban lain terabaikan.

Penelitian Melibatkan 900 Orang Dewasa

Penelitian melibatkan 900 peserta berusia 18 hingga 65 tahun. Rata-rata usia peserta sekitar 26 tahun sehingga sebagian besar sampel terdiri dari kelompok dewasa muda.

Sebelum mengikuti pemantauan, peserta menjalani wawancara untuk mengetahui tingkat keparahan penggunaan internet mereka.

Selanjutnya, setiap peserta diminta mengisi penilaian pada malam hari selama 14 hari. Mereka melaporkan beberapa hal, antara lain:

  • Tingkat stres yang dirasakan.
  • Kondisi suasana hati.
  • Dorongan atau godaan untuk kembali online.
  • Durasi penggunaan internet.
  • Rasa senang dan lega setelah online.
  • Aktivitas lain yang diabaikan.

Peneliti memperoleh lebih dari 11.000 laporan harian dengan tingkat kepatuhan peserta sekitar 88 persen.

Penggunaan Internet Berlebihan Berkaitan dengan Bad Mood

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan tingkat penggunaan internet bermasalah yang lebih tinggi juga melaporkan suasana hati yang lebih buruk.

Pada hari ketika suasana hati peserta memburuk, dorongan untuk menggunakan internet menjadi lebih kuat. Mereka juga cenderung menggunakan internet lebih lama dan lebih banyak mengabaikan kegiatan lain.

Masalahnya, kembali online tidak selalu berhasil memperbaiki suasana hati. Pada peserta dengan gejala penggunaan internet bermasalah yang lebih berat, aktivitas online justru memberikan rasa senang dan kelegaan yang lebih kecil.

Kondisi tersebut dapat menciptakan pola berulang. Seseorang merasa tidak nyaman, membuka media sosial atau aplikasi tertentu untuk mencari hiburan, tetapi tidak mendapatkan kepuasan yang diharapkan. Akibatnya, ia terus kembali menggunakan aplikasi tersebut.

Pembaca yang ingin memahami cara menjaga kondisi psikologis ketika aktif menggunakan perangkat digital dapat membaca artikel internal mengenai kesehatan mental di era digital di GOT77.ID.

Hubungan Penggunaan Internet dan Stres

Penelitian juga menemukan bahwa peserta dengan penggunaan internet bermasalah yang lebih berat secara umum mengalami tingkat stres harian lebih tinggi.

Namun, hubungan antara stres dan penggunaan internet ternyata cukup kompleks. Pada hari dengan stres lebih tinggi, total durasi penggunaan internet peserta justru sedikit menurun. Peneliti menduga hal tersebut dapat terjadi karena orang yang sedang sibuk atau memiliki beban tinggi mempunyai lebih sedikit waktu untuk online.

Meskipun demikian, stres yang lebih tinggi tetap berkaitan dengan dorongan lebih kuat untuk membuka aplikasi online. Pada peserta dalam kelompok patologis, stres juga berhubungan dengan meningkatnya pengabaian terhadap pekerjaan atau aktivitas lain.

Dengan kata lain, seseorang mungkin menggunakan internet sedikit lebih singkat pada hari yang sibuk, tetapi tetap kesulitan menahan keinginan untuk membuka aplikasi dan mengalihkan perhatian dari kewajibannya.

Godaan untuk Online Menjadi Faktor Utama

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa stres atau bad mood bukan faktor terkuat yang menentukan apakah seseorang akan menggunakan internet.

Faktor yang paling menonjol justru adalah godaan atau dorongan sesaat untuk kembali online.

Ketika dorongan tersebut meningkat, kemungkinan peserta membuka aplikasi juga menjadi lebih tinggi. Godaan itu dapat muncul dalam bentuk keinginan memeriksa notifikasi, melihat unggahan terbaru, melanjutkan permainan, atau membuka aplikasi belanja.

Dorongan tersebut kemudian diperkuat oleh dua hal:

  1. Pleasure, yaitu rasa senang yang diperoleh setelah menggunakan aplikasi.
  2. Relief, yaitu rasa lega sementara dari stres atau perasaan tidak nyaman.

Rasa senang dan lega sesaat dapat membuat seseorang terus mengulangi perilaku tersebut. Pada saat bersamaan, semakin banyak pekerjaan, hubungan sosial, waktu tidur, atau aktivitas lain yang berpotensi terabaikan.

Peneliti menilai kemampuan mengenali dan mengendalikan momen ketika godaan muncul dapat menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penggunaan internet bermasalah.

Mengapa Internet Sulit Ditinggalkan?

Banyak layanan digital dirancang agar mudah digunakan dan membuat pengguna terus kembali. Notifikasi, rekomendasi otomatis, video pendek, penghargaan dalam game, dan pembaruan tanpa henti membuat selalu ada sesuatu yang baru untuk dilihat.

Namun, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa teknologi atau internet selalu buruk.

Internet tetap memberikan banyak manfaat untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, serta menjaga hubungan dengan orang lain. Organisasi Kesehatan Dunia juga menjelaskan bahwa lingkungan digital membawa peluang sekaligus risiko bagi kesehatan mental dan kesejahteraan.

Persoalan mulai muncul ketika seseorang kehilangan kendali dan internet menggantikan aktivitas penting yang sebenarnya mendukung kesehatan, seperti tidur, berolahraga, menyelesaikan pekerjaan, atau berinteraksi secara langsung.

Tanda Penggunaan Internet Mulai Bermasalah

Durasi yang panjang saja tidak selalu menandakan masalah. Hal yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Sulit berhenti meskipun sudah berniat menutup aplikasi.
  • Terus memeriksa ponsel tanpa tujuan yang jelas.
  • Mengabaikan pekerjaan, tugas sekolah, atau tanggung jawab rumah.
  • Waktu tidur berkurang karena terus online.
  • Merasa gelisah ketika tidak bisa mengakses internet.
  • Kehilangan minat terhadap hobi atau aktivitas di luar perangkat.
  • Menggunakan internet untuk menghindari stres atau masalah.
  • Hubungan dengan keluarga atau teman mulai terganggu.
  • Tetap menggunakan aplikasi meskipun mengetahui akibat negatifnya.

Penelitian menekankan bahwa pengabaian terhadap kegiatan penting menjadi salah satu indikator utama, bukan sekadar jumlah jam yang dihabiskan di depan layar.

Terlalu Lama Online Belum Tentu Berarti Kecanduan

Istilah kecanduan internet sering digunakan secara longgar. Padahal, seseorang yang bekerja menggunakan laptop selama delapan jam belum tentu mengalami penggunaan internet bermasalah.

Peneliti menegaskan bahwa waktu penggunaan yang tinggi tidak selalu sejalan dengan tingkat gangguan. Faktor seperti kehilangan kendali, dorongan yang sulit ditahan, tekanan psikologis, dan pengabaian aktivitas lain lebih penting untuk diperhatikan.

Karena itu, sebaiknya jangan langsung memberikan label kecanduan kepada seseorang hanya berdasarkan durasi layar.

Konteks penggunaan juga perlu dilihat. Aktivitas produktif seperti belajar, mengikuti rapat, membuat desain, atau berkomunikasi dengan keluarga berbeda dengan penggunaan kompulsif yang membuat kewajiban terabaikan.

Cara Mengurangi Penggunaan Internet Berlebihan

Mengurangi waktu online tidak selalu berarti harus meninggalkan internet sepenuhnya. Tujuannya adalah membangun kebiasaan yang lebih terkontrol dan seimbang.

1. Kenali pemicu keinginan membuka aplikasi

Perhatikan kapan dorongan untuk online paling sering muncul. Apakah ketika bosan, stres, kesepian, menunggu sesuatu, atau sedang menghindari tugas?

Mengenali pemicu membantu seseorang menentukan respons lain yang lebih tepat.

2. Matikan notifikasi yang tidak penting

Notifikasi dapat memancing keinginan membuka aplikasi meskipun tidak ada kebutuhan mendesak. Sisakan pemberitahuan untuk komunikasi dan pekerjaan yang benar-benar penting.

3. Jauhkan ponsel ketika bekerja

Letakkan perangkat di tempat yang tidak langsung terlihat ketika sedang menyelesaikan pekerjaan. Langkah sederhana ini dapat mengurangi kebiasaan mengambil ponsel secara otomatis.

4. Tentukan waktu khusus untuk media sosial

Daripada memeriksa aplikasi setiap beberapa menit, tentukan jadwal tertentu, misalnya pada waktu istirahat atau setelah pekerjaan selesai.

5. Gunakan batas waktu aplikasi

Sebagian besar ponsel memiliki fitur untuk memantau dan membatasi durasi penggunaan aplikasi. Gunakan data tersebut untuk mengetahui aplikasi mana yang paling banyak menghabiskan waktu.

6. Buat zona tanpa perangkat

Hindari penggunaan ponsel ketika makan, berbicara dengan keluarga, atau menjelang tidur. American Psychological Association menyarankan pembentukan batas yang jelas agar teknologi tidak terus mengganggu waktu pribadi dan hubungan sosial.

7. Ganti kebiasaan online dengan aktivitas lain

Ketika muncul keinginan membuka aplikasi, coba berjalan sebentar, minum air, membaca buku, berolahraga ringan, atau berbicara dengan orang lain.

Tujuannya bukan hanya menahan keinginan, tetapi menyediakan aktivitas pengganti yang memberikan manfaat nyata.

8. Evaluasi suasana hati

Catat bagaimana perasaan sebelum dan setelah membuka media sosial atau aplikasi lain. Apabila suasana hati terus memburuk, pertimbangkan untuk mengurangi paparan terhadap akun atau jenis konten tertentu.

Perlukah Melakukan Digital Detox?

Digital detox adalah upaya mengurangi atau menghentikan penggunaan perangkat digital untuk jangka waktu tertentu.

Cara ini dapat membantu sebagian orang menyadari kebiasaan mereka. Namun, digital detox tidak harus dilakukan secara ekstrem dengan meninggalkan seluruh perangkat.

Pendekatan yang lebih realistis dapat berupa:

  • Tidak membuka media sosial selama satu hari.
  • Menonaktifkan notifikasi pada akhir pekan.
  • Tidak membawa ponsel ke kamar tidur.
  • Membatasi penggunaan aplikasi tertentu.
  • Menentukan waktu bebas layar setiap malam.

Hal terpenting adalah membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Kapan Perlu Mencari Bantuan?

Pertimbangkan berbicara dengan psikolog, konselor, atau tenaga kesehatan ketika penggunaan internet mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, tidur, hubungan, atau kondisi emosional.

Bantuan profesional juga layak dipertimbangkan apabila seseorang merasa tidak mampu mengurangi penggunaan meskipun sudah berulang kali mencoba.

Pembaca yang sering mengalami rasa khawatir atau gelisah dapat membaca pembahasan internal GOT77.ID mengenai penyebab sering cemas berlebihan sebagai informasi tambahan. Namun, artikel kesehatan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga profesional.

Penelitian Belum Membuktikan Hubungan Sebab Akibat

Judul berita mengenai penelitian ini perlu dibaca secara hati-hati.

Penelitian menemukan hubungan antara penggunaan internet bermasalah, stres, bad mood, dan pengabaian aktivitas. Penelitian tersebut belum membuktikan bahwa internet secara langsung menyebabkan stres atau suasana hati buruk pada semua orang.

Peneliti hanya meminta peserta mengisi penilaian satu kali pada akhir setiap hari. Karena itu, urutan kejadian tidak selalu dapat diketahui secara pasti. Tidak selalu jelas apakah stres muncul lebih dahulu, penggunaan internet terjadi lebih dahulu, atau keduanya saling memengaruhi.

Selain itu, sebagian besar peserta merupakan dewasa muda. Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu dapat diterapkan secara sama kepada seluruh kelompok usia.

Peneliti menyarankan penelitian lanjutan dengan pengukuran yang lebih sering dan kelompok peserta yang lebih beragam.

Kesimpulan

Studi terbaru menunjukkan bahwa penggunaan internet berlebihan yang sudah mengganggu kehidupan sehari-hari berkaitan dengan tingkat stres lebih tinggi, suasana hati lebih buruk, serta meningkatnya pengabaian terhadap aktivitas penting.

Temuan paling menarik adalah bahwa dorongan atau godaan untuk kembali online menjadi faktor yang lebih kuat daripada stres dan bad mood dalam menentukan penggunaan internet harian.

Meski demikian, durasi online yang panjang tidak otomatis berarti seseorang mengalami kecanduan. Konteks, kemampuan mengendalikan perilaku, dan dampaknya terhadap kehidupan menjadi faktor yang lebih penting.

Internet tetap dapat memberikan manfaat besar. Kuncinya adalah memastikan aktivitas digital tidak menggantikan waktu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, olahraga, dan kegiatan lain yang mendukung kualitas hidup.


FAQ Penggunaan Internet Berlebihan

Apa yang dimaksud penggunaan internet berlebihan?

Penggunaan internet berlebihan adalah pola aktivitas online yang mulai sulit dikendalikan serta mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, atau kegiatan penting lainnya.

Apakah terlalu lama online menyebabkan stres?

Penelitian menemukan hubungan antara penggunaan internet bermasalah dan stres yang lebih tinggi. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa internet secara langsung menyebabkan stres pada semua orang.

Berapa jam penggunaan internet yang dianggap berlebihan?

Tidak ada satu batas waktu yang berlaku untuk semua orang. Durasi penggunaan perlu dinilai bersama tujuan penggunaan, kemampuan mengendalikan kebiasaan, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Mengapa seseorang terus membuka media sosial?

Godaan, notifikasi, rasa senang, dan kelegaan sementara dapat mendorong seseorang terus kembali membuka media sosial. Penelitian menemukan bahwa godaan sesaat menjadi salah satu prediktor terkuat penggunaan internet.

Apakah penggunaan internet berlebihan sama dengan kecanduan?

Tidak selalu. Penggunaan internet yang lama belum tentu menjadi kecanduan. Masalah lebih mungkin terjadi ketika seseorang kehilangan kontrol dan terus online meskipun mengalami dampak negatif.

Bagaimana cara mengurangi kebiasaan online?

Matikan notifikasi yang tidak penting, gunakan batas waktu aplikasi, jauhkan ponsel ketika bekerja, tentukan waktu tanpa perangkat, dan siapkan aktivitas pengganti.

Kapan perlu berkonsultasi dengan profesional?

Konsultasi dapat dipertimbangkan ketika penggunaan internet terus mengganggu tidur, pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau kesehatan emosional dan sulit dikurangi secara mandiri.


Link GOT77.ID

menjaga kesehatan mental di era digital

penyebab sering cemas berlebihan

penyebab kelelahan yang tidak boleh disepelekan

External Link dan Sumber

Penelitian utama di PLOS One

Ringkasan penelitian dari PLOS

WHO tentang lingkungan digital dan kesehatan mental

APA tentang penggunaan teknologi yang sehat

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari GOTO77

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca